Dadah Pertama

Pengalaman macam apa pun kalau itu dilakukan pertama kali pasti kesan pesannya lebih banyak dari yang berikutnya. Secara, it’s a matter of survival. Di saat masih hijau, masih bocah ingusan, masa depan tidak selalu bisa dijamin. Alhasil aku merasa tidak aman karena apa pun bisa terjadi di masa depan.

Bukan hakku untuk berbicara kalau aku sudah kenyang sekarang, lagi pula masih panjang perjalananku. Tapi semakin aku berjalan jauh, aku temukan kepingan jawaban yang tersebar di sepanjang jalanan. Beberapa ada yang pas dengan puzzle teka-tekiku, beberapa ada yang harus kubuang agar aku bisa maju ke depan.

Di saat aku melakukan pencarian diri, orangtua jauh di sentuhan, dekat di angan-angan. Tapi yang di atas selalu melihat gerak-gerikku, karena Ia lah yang telah membuat jalan ini. Syukur kulantunkan ketika Ia membimbingku kembali ke jalan utama.

Ketika seorang bocah bilang ia akan terbang ke negeri lain, reaksi yang orang dewasa berikan adalah antara miris, bangga, dan kagum. Walaupun orang dewasa lah yang banyak mengontrol dunia ini, terkadang sifat juga bisa berkontradiksi dengan umur. Yang mana yang salah… yang mana yang benar… meh.

Aku keluar dari pulauku, sudah terasa memang bahwa teman dari pulau yang sama itu tak terbayar harganya. Mencoba membuat teman disini… eh terkadang malah disangka alien -_- . Tapi beberapa dari mereka disini seperti harta karun yang langka. Biji-biji dari seantero dunia ini lah yang menemani suka dan dukaku.

Kalau kebetulan datang dua kali, itu namanya udah takdir.

IMG_1376

NBS

Buat Seorang Bapak…

Yang terkadang membuatku kesal karena saking pendiamnya, apapun yang kami mau ia turuti. Kekakuannya terkadang membuatku ingin menjambak rambut sendiri. Bukan mainan, bukan uang, bukan kaset baru, bukan ini, bukan itu… urgghh…

Aku tak mau jadi generasi yang sebentar lagi akalnya akan digantikan chip komputer.

Buat seorang Bapak yang ulang tahunnya terlupakan.

IMG_2966

“Maaf Telat Pak.”

“Sorry It’s Late Dad.”

Bapak bertambah tua

Tapi otak tak boleh menua

 

Gagap teknologi

Harusnya bukan cirihas Bapak lagi

 

Jaga kesehatan

Jangan terus berbicara dengan ikan

 

Burung berkoar-koar

Anak-anak Bapak lapar

 

Lapar akan perhatian

Bosan akan penantian

 

Hidup panjang

Bukan berarti happy

 

Kerut Bapak makin banyak tuh

Met ultah

 

1899715021224022280214

Khatulistiwa di Hati

Papa yang seorang Bugis tidak selalu jauh dari hal yang namanya ‘merantau.’ Ia selalu bercerita bagaimana orang-orangnya selalu sukses di daerah perantauan tapi tidak pernah lupa akan daerah asalnya.

Papa bilang yang namanya merantau itu sedihnya selalu terasa di saat take off. Berdasarkan pengalamannya merantau ke Jakarta hanya dengan kardus berisikan indomie dan pakaian, ia meninggalkan pelabuhan Makassar dengan banyak harapan yang ia nantikan di ibu kota. Tiba-tiba ada semacam film kecil yang kembali berputar di kepalanya. Di situ ia melihat wajah orang-orang yang ia cintai dan segala memori yang teramat berharga baginya, dengan bangga Papa mengakui di saat itu ia hampir menangis.

Kalau Papa saja sudah begitu ke Jakarta, bagaimana aku yang harus menaiki pesawat selama dua belas jam ke benua lain?

Semenjak aku menginjakkan kaki di negeri asing ini, aku tahu pekerjaan pertamaku adalah menjadi seorang diplomat kecil bagi negara. Anak-anak di sekolahku tak banyak yang tahu di mana itu Indonesia sampai aku menyebutkan bahwa kita ada di atas Australia. Kalau ditanya tentang pemerintahnya, korup adalah kata yang pertama kali muncul. Malu memang… saat menyebutkannya, tapi begitulah kenyataannya.

Di sisi lain, bagiku Indonesia bukanlah sekedar negara korup yang hanya bisa dimanfaatkan negara-negara maju. Mata teman-teman asingku terbelalak pada saat aku menyebutkan populasi Indonesia yang berjumlah sekitar dua ratus juta nyawa, kita punya tujuh belas ribu pulau, beratus-ratus bahasa tradisional, keanekaragaman hayati yang buanyak, daaaan daftarnya terus mengalir.

Di saat aku bergidik karena hawa dingin yang menyerangku di bawah mantel tebal, di saat aku merasakan kehambaran di setiap makanan yang aku santap, di saat aku mencium bau rempah-rempah di supermarket, aku mulai membuat kesimpulanku tersendiri; bahwa Indonesia itu bukanlah sekedar negara, tapi juga surga!

Sayangnya, beberapa rakyatnya tidak terlalu bersyukur tampaknya…

Hatiku mencelos saat mendengar beberapa pengakuan dari sobat-sobat Indonesiaku di sini. Beberapa memberitahuku bahwa hidupnya akan lebih baik di negara lain yang pemerintahnya tidak korup seperti di Indonesia. Tapi aku tetap keukeuh mengajak mereka untuk melihat Indonesia tidak hanya dari sisi tersebut. Justru figur-figur seperti mereka yang lulusan luar sangat dibutuhkan, tetapi… mereka malah lari.

Saat ditanya apa yang aku pilih untuk ke depannya, mau tetap di Indonesia atau… bagaimana? Dengan mantap aku berkata, “Aku sudah terlalu cinta negara kita, gimana aku mau pindah?” Janjiku untuk Indonesia sudah bermula di situ. Aku mau diriku dan pengetahuan yang aku sudah gali di negeri asing ini berguna bagi banyak orang dan juga bagi negara.

Bagiku, cinta bukanlah sesuatu yang harus tumbuh di antara dua insan manusia yang saling mengasihi satu sama lain. Cintaku untuk sebuah negara yang telah menjadi tempat kelahiranku dan unsur-unsur budayanya yang sudah menjadi seperti tiang hidupku, adalah cinta yang juga dapat menjadi abadi.

Orang-orang mengenal bentuk cintaku sebagai patriotisme, suatu hal yang sudah jarang ditemukan di antara generasi-generasi penerus bangsa kita. Aku tak ingin rasa ‘cinta’ itu tiba-tiba hilang dalam sekejap di saat yang tradisional bercampur dengan modernisasi. Dari tari dan lagu tradisional, lalu dapat menjadi pulau-pulau yang tak terurus dan akhirnya diklaim bangsa lain. Aku tak mau generasi penerusku kehilangan kesempatan untuk melihat langsung apa yang telah kulihat dengan mata kepalaku sendiri.

Ada sebuah slogan berkata, “tidak kenal, maka tidak cinta.” Jadi… bagaimana kalau kita mulai ‘berkenalan lagi’ dari sekarang? Agar rasa kepunyaan itu–rasa cinta itu kembali lagi.