Khatulistiwa di Hati

Papa yang seorang Bugis tidak selalu jauh dari hal yang namanya ‘merantau.’ Ia selalu bercerita bagaimana orang-orangnya selalu sukses di daerah perantauan tapi tidak pernah lupa akan daerah asalnya.

Papa bilang yang namanya merantau itu sedihnya selalu terasa di saat take off. Berdasarkan pengalamannya merantau ke Jakarta hanya dengan kardus berisikan indomie dan pakaian, ia meninggalkan pelabuhan Makassar dengan banyak harapan yang ia nantikan di ibu kota. Tiba-tiba ada semacam film kecil yang kembali berputar di kepalanya. Di situ ia melihat wajah orang-orang yang ia cintai dan segala memori yang teramat berharga baginya, dengan bangga Papa mengakui di saat itu ia hampir menangis.

Kalau Papa saja sudah begitu ke Jakarta, bagaimana aku yang harus menaiki pesawat selama dua belas jam ke benua lain?

Semenjak aku menginjakkan kaki di negeri asing ini, aku tahu pekerjaan pertamaku adalah menjadi seorang diplomat kecil bagi negara. Anak-anak di sekolahku tak banyak yang tahu di mana itu Indonesia sampai aku menyebutkan bahwa kita ada di atas Australia. Kalau ditanya tentang pemerintahnya, korup adalah kata yang pertama kali muncul. Malu memang… saat menyebutkannya, tapi begitulah kenyataannya.

Di sisi lain, bagiku Indonesia bukanlah sekedar negara korup yang hanya bisa dimanfaatkan negara-negara maju. Mata teman-teman asingku terbelalak pada saat aku menyebutkan populasi Indonesia yang berjumlah sekitar dua ratus juta nyawa, kita punya tujuh belas ribu pulau, beratus-ratus bahasa tradisional, keanekaragaman hayati yang buanyak, daaaan daftarnya terus mengalir.

Di saat aku bergidik karena hawa dingin yang menyerangku di bawah mantel tebal, di saat aku merasakan kehambaran di setiap makanan yang aku santap, di saat aku mencium bau rempah-rempah di supermarket, aku mulai membuat kesimpulanku tersendiri; bahwa Indonesia itu bukanlah sekedar negara, tapi juga surga!

Sayangnya, beberapa rakyatnya tidak terlalu bersyukur tampaknya…

Hatiku mencelos saat mendengar beberapa pengakuan dari sobat-sobat Indonesiaku di sini. Beberapa memberitahuku bahwa hidupnya akan lebih baik di negara lain yang pemerintahnya tidak korup seperti di Indonesia. Tapi aku tetap keukeuh mengajak mereka untuk melihat Indonesia tidak hanya dari sisi tersebut. Justru figur-figur seperti mereka yang lulusan luar sangat dibutuhkan, tetapi… mereka malah lari.

Saat ditanya apa yang aku pilih untuk ke depannya, mau tetap di Indonesia atau… bagaimana? Dengan mantap aku berkata, “Aku sudah terlalu cinta negara kita, gimana aku mau pindah?” Janjiku untuk Indonesia sudah bermula di situ. Aku mau diriku dan pengetahuan yang aku sudah gali di negeri asing ini berguna bagi banyak orang dan juga bagi negara.

Bagiku, cinta bukanlah sesuatu yang harus tumbuh di antara dua insan manusia yang saling mengasihi satu sama lain. Cintaku untuk sebuah negara yang telah menjadi tempat kelahiranku dan unsur-unsur budayanya yang sudah menjadi seperti tiang hidupku, adalah cinta yang juga dapat menjadi abadi.

Orang-orang mengenal bentuk cintaku sebagai patriotisme, suatu hal yang sudah jarang ditemukan di antara generasi-generasi penerus bangsa kita. Aku tak ingin rasa ‘cinta’ itu tiba-tiba hilang dalam sekejap di saat yang tradisional bercampur dengan modernisasi. Dari tari dan lagu tradisional, lalu dapat menjadi pulau-pulau yang tak terurus dan akhirnya diklaim bangsa lain. Aku tak mau generasi penerusku kehilangan kesempatan untuk melihat langsung apa yang telah kulihat dengan mata kepalaku sendiri.

Ada sebuah slogan berkata, “tidak kenal, maka tidak cinta.” Jadi… bagaimana kalau kita mulai ‘berkenalan lagi’ dari sekarang? Agar rasa kepunyaan itu–rasa cinta itu kembali lagi.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s